Rabu, 25 Mei 2011

RADIASI ALAM

Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kedua menyatakan bahwa radiasi adalah pemancaran dan perambatan gelombang yang membawa tenaga melalui ruang atau antara, misal pemancaran dan perambatan gelombang elektromagnetik, gelombang bunyi; gelombang lenting; penyinaran. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa radiasi bukan hanya radiasi nuklir, tetapi juga radiasi lain seperti gelombang radio, gelombang televisi, pancaran sinar matahari, dll.

Banyak orang beranggapan bahwa radiasi hanya terkait dengan reaktor nuklir atau bom nuklir. Yang tidak banyak diketahui sesungguhnya adalah bahwa alam ini juga merupakan pemancar radiasi, bahkan merupakan sumber radiasi satu-satunya bagi orang yang tidak bekerja dengan reaktor nuklir, atau tidak terkena radiasi dari tindakan medis. Dalam hal radiasi nuklir, ketidakstabilan atom atau inti atomlah yang menyebabkan terjadinya pancaran radiasinya.

Radiasi yang dipancarkan alam dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis yaitu radiasi kosmis, radiasi terestrial, dan radiasi internal. Radiasi kosmik beradal dari sumber radiasi yang berada pada benda langit dalam tata surya dalam bentuk partikel berenergi tinggi (sinar kosmis); dan sumber radiasi yang berasal dari unsur radioaktif di dalam kerak bumi yang terbentuk sejak terjadinya bumi.Radiasi internal adalah radiasi yang diterima oleh manusia dari dalam tubuh manusia sendiri, dalam hal ini sumber radiasi masuk ke dalam tubuh manusia melalui makanan, minuman atau udara.

Radiasi kosmis

Sinar kosmis yang berupa partikel akan bereaksi dengan atmosfir bumi menghasilkan tritium, berilium dan carbon yang radioaktif. Tak seorangpun luput dari guyuran radiasi ini meskipun jumlahnya berbeda-beda berdasarkan lokasi dan ketinggian.

Karena medan magnet bumi mempengaruhi radiasi ini, maka orang di kutub menerima lebih banyak daripada yang ada di katulistiwa. Selain itu orang yang berada di lokasi yang lebih tinggi akan menerima radiasi yang lebih besar karena semakin sedikit lapisan udara yang dapat bertindak sebagai penahan radiasi. Jadi, orang yang berada di puncak gunung akan menerima radiasi yang lebih banyak daripada yang di permukaan laut. Orang yang bepergian dengan pesawat terbang juga menerima lebih banyak radiasi.

Di bawah ini adalah data yang diperoleh oleh satu badan internasional di bawah PBB yang meneliti masalah efek radiasi (UNSCEAR). Laju dosis diberikan dalam mikrosievert per jam, di mana 1 mikro sama dengan sepersejuta. 
 
 
Misalnya ada seseorang bepergian dari Jakarta ke Yogyakarta menggunakan pesawat terbang dengan waktu tempuh kira-kira 1 jam dengan ketinggian jelajah sekitar 12000 m, maka orang itu akan memperoleh radiasi kosmis sebesar 5 mikrosievert. Batas dosis masyarakat umum adalah 5 milisievert per tahun atau 2,4 mikrosievert per jam. Jadi orang itu telah menerima radiasi lebih dari 2 kali nilai batas. Meskipun demikian, orang ini belum tentu akan menderita kanker akibat tambahan radiasi ini.


Radiasi terestrial

Bahan radioaktif utama yang ada dalam kerak bumi adalah Kalium-40, Rubidium-87, unsur turunan dari Uranium-238 dan turunan Thorium-232. Besarnya radiasi dari kerak bumi ini berbeda-beda karena konsentrasi unsur-unsur di tiap lokasi berbeda, tetapi biasanya tidak terlalu berbeda jauh. Penelitian di Perancis, Jerman, Italia, Jepang dan Amerika Serikat menunjukkan bahwa kira-kira 95 persen populasi tinggal di daerah dengan tingkat radiasi rerata dari bumi antara 0,3-0,6 milisievert per tahun (bandingkan: nilai batas dosis pekerja radiasi adalah 50 milisievert per tahun, untuk masyarakat umum 5 milisievert per tahun). Sekitar tiga persen populasi dunia menerima dosis 1 milisievert per tahun atau lebih.

Ada beberapa tempat di dunia ini yang memiliki tingkat radiasi dari kerak bumi yang sangat tinggi tetapi tingkat insiden orang terkena kanker rendah. 
 
 
Menurut perhitungan UNSCEAR, penduduk bumi menerima radiasi dari kerak bumi ini kira-kira 350 mikorosievert per tahun.

Radiasi internal

Manusia juga menerima pancaran radiasi dari dalam tubuhnya sendiri. Unsur radioaktif ini kebanyakan berasal dari sumber kerak bumi yang masuk melalui udara yang dihirup, air yang diminum ataupun makanan. Unsur yang meradiasi manusia dari dalam ini kebanyakan berupa tritium, Carbon-14, Kalium-40, Timah Hitam (Pb-210) dan Polonium-210. Radiasi internal ini umumnya merupakan 11% total radiasi yang diterima seseorang.

Penduduk di tempat paling utara di bumi menerima radiasi internal dari Polonium-210 kira-kira 35 kali nilai rata-rata dari daging kijang yang mereka makan. Penduduk di daerah Australia Barat yang kaya dengan uranium menerima radiasi internal kira-kira 75 kali nilai rata-rata dari daging domba, kangguru dan offal yang mereka konsumsi.

Seseorang yang ada di dalam gedung atau rumah dapat menerima radiasi dari sumber yang ada dalam bahan bangunan. Sumber radiasi yang terutama di sini adalah radon yang merupakan gas turunan peluruhan Uranium-238 dan Thorium-232. Yang berbahaya dari gas radon ini adalah anak turunannya yang akhirnya menjadi timah hitam yang stabil. Di daerah yang beriklim dingin, konsentrasi radon di dalam rumah bisa lebih tinggi daripada di luar, akan tetapi di daerah tropis konsentrasi di dalam maupun di luar bisa sama (karena kondisi rumah yang terbuka). Radiasi yang diterima dari radon ini kira-kira 50% dari total radiasi yang diterima dari alam.

Radiasi dari tindakan medis

Radiasi dari tindakan medis merupakan radiasi yang berasal dari sumber buatan manusia, jadi sesungguhnya bukan merupakan radiasi dari alam. Radiasi dari tindakan medis ini dituliskan di sini sebagai pembanding.

Dalam bidang kedokteran radiasi digunakan sebagai alat pemeriksaan (diagnosis) maupun penyembuhan (terapi). Pesawat sinar-X atau Roentgen merupakan alat diagnosis yang paling banyak dikenal dan dosis radiasi yang diterima dari roentgen ini merupakan dosis tunggal (sekaligus) terbesar yang diterima dari radiasi buatan manusia. Dalam sekali penyinaran sinar-X ke dada, seseorang dapat menerima dosis radiasi total sejumlah 35-90 hari jumlah radiasi yang diterima dari alam. Penyinaran sinar-X untuk pemeriksaan gigi memberikan dosis total kira-kira 3 hari jumlah radiasi yang diterima dari alam. Penyinaran radiasi untuk penyembuhan kanker nilai dosisnya kira-kira ribuan kali dari yang diterima dari alam.

Meskipun dosis radiasi yang diterima dari kedokteran ini cukup tinggi, orang masih mau menerimanya karena nilai manfaatnya jauh lebih besar daripada iesikonya.

Radiasi dari reaktor nuklir

Banyak orang beranggapan bahwa tinggal di sekitar pembangkit listrik tenaga nuklir akan menyebabkan terkena radiasi yang tinggi. Meskipun di dalam reaktor terdapat banyak sekali unsur radioaktif, tetapi sistem keselamatan reaktor membuat jumlah lepasan radiasi ke lingkungan sangat kecil. Dalam kondisi normal, seseorang yang tinggal di radius 1-6 km dari reaktor menerima radiasi tambahan tak lebih daripada 0,005 milisievert per tahun. Nilai ini jauh lebih kecil daripada yang diterima dari alam (kira-kira 2 milisievert per tahun) atau 1/400 nilai radiasi dari alam.

Radiasi yang dipancarakan dari PLTN sesungguhnya lebih kecail daripada radiasi dari pembangkit listrik berbahan bakar batubara maupun minyak. Radiasi yang diterima orang per orang di sekitar PLT Batubara bisa 3 kali lebih tinggi daripada yang diterima dari PLTN.
 
Sumber dosis radiasi
 

Sumber

Berbagai sumber :
  1. www.batan.go.id Credit By Sudi Ariyanto

RADIASI DOSIS RENDAH: MENGUNTUNGKAN?

Awal perkenalan umat manusia dengan radiasi pengion dimulai ketika Wilhelm C. Roentgen (1845 - 1923), fisikawan berkebangsaan Jerman, pada tahun 1895 menemukan sejenis sinar aneh yang selanjutnya diberi nama sinar-X. Selang satu tahun dari penemuan sinar-X tersebut, fisikawan Perancis Antonie Henry Becquerel menemukan unsur Uranium (U) yang dapat memancarkan radiasi secara spontan. Untuk selanjutnya bahan yang memiliki sifat seperti itu disebut bahan radioaktif.

Dua tahun kemudian, pasangan suami-istri ahli kimia berkebangsaan Perancis Marie Curie dan Piere Curie menemukan unsur Polonium (Po) dan Radium (Ra) yang memperlihatkan gejala yang sama seperti Uranium.

Beberapa efek merugikan yang muncul pada tubuh manusia karena terpapari sinar-X dan gamma dengan dosis berlebihan segera teramati tidak lama setelah penemuan kedua jenis radiasi tersebut. Marie Curie meninggal pada tahun 1934 akibat terserang oleh leukemia. Penyakit tersebut besar kemungkinan akibat paparan radiasi karena seringnya beliau berhubungan dengan bahan-bahan radioaktif. Meskipun demikian, upaya perlindungan terhadap bahaya radiasi pada saat itu belum mendapatkan perhatian yang serius.

Studi intensif efek radiasi terhadap jaringan tubuh manusia terus dilakukan oleh para ahli biologi radiasi (radiobiologi), hingga akhirnya secara pasti diketahui bahwa radiasi tersebut dapat menimbulkan kerusakan somatik berupa kerusakan sel-sel jaringan tubuh dan kerusakan genetik berupa mutasi sel-sel reproduksi. Dengan demikian manusiapun menyadari bahwa radiasi dapat memberikan ancaman terhadap kesehatan manusia yang perlu diwaspadai. Resiko kerusakan somatik dalam bentuk munculnya penyakit kanker dialami langsung oleh orang yang sel somatiknya terkena penyinaran. Sedang resiko dari kerusakan genetik tidak dialami oleh yang bersangkutan, melainkan keturunan orang tersebut mempunyai peluang untuk menderita cacat genetis.

Studi epidemilogi efek biologi dari radiasi pengion yang telah dilakukan melibatkan tidak kurang dari dua juta orang dewasa dan anak-anak. Studi tersebut dilakukan terhadap mereka baik yang menerima paparan radiasi dari alam di atas normal, para korban bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, para korban kecelakaan fasilitas nuklir (PLTN Chernobyl misalnya) termasuk mereka yang masih di dalam kandungan sewaktu terjadi kecelakaan, serta para pekerja radiasi dan penduduk di sekitar suatu instalasi nuklir.

Hormesis Radiasi

Data epidemilogi mengenai efek radiasi dosis rendah sebagai penyebab timbulnya kanker dan kerusakan genetik masih minim. Di lain pihak beberapa pakar biologi radiasi dapat menunjukkan bukti-bukti tentang adanya efek merangsang (stimulatif) akibat paparan radiasi dosis rendah yang disebut hormesis. Fenomena hormesis ini sebenarnya sudah lama dikenal dalam ilmu obat-obatan (farmakologi). Dalam hal ini hormesis mengandung pengertian bahwa suatu zat yang dalam jumlah banyak bersifat racun tetapi dalam jumlah sedikit bersifat sebagai perangsang kehidupan. Obat-obatan para prinsipnya tersebut dari bahan-bahan kimia yang bersifat racun bagi tubuh, namun dengan pengaturan dosis yang tepat, obat-obatan justru bermanfaat bagi tubuh. Bertitik tolak dari pengertian ini maka hormesis radiasi mengandung pengertian bahwa radiasi dosis rendah bersifat mampu memberikan efek yang menguntungkan bagi kehidupan.

Hipotesa tentang adanya hormesis radiasi muncul setelah dilakukan penelitian terhadap organisme ber-sel tunggal hingga tumbuh-tumbuhan dan binatang bersel banyak seperti serangga, ikan dan mamalia. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa paparan radiasi dosis rendah memberikan efek perbaikan terhadap binatang maupun tumbuhan percobaan dalam bentuk tingkat kesuburan, kesehatan, peningkatan umur rata-rata binatang percobaan, kemampuan penyembuhan luka, kerentanan terhadap penyakit. Ketahanan terhadap infeksi dan lain-lain.

Sementara data-data tentang adanya hormesis pada binatang percobaan cukup banyak, hormesis radiasi terutama bagi manusia hingga kini masih menjadi ajang perdebatan bagi para pakar biologi radiasi. Hal ini disebabkan belum lengkapnya data yang mendukung kesimpulan ke arah sana. Meskipun demikian, data-data epidemiologi yang telah terkumpul hingga saat ini cukup menunjukkan bahwa hormesis dapat juga terjadi pada manusia. Data epidemiologi tersebut berupa data dari korban bom atom di Hiroshima dan Nagasaki dan penduduk yang tinggal pada daerah dengan radiasi latar alamiah lebih tinggi dibandingkan dengan radiasi latar alamiah normal, seperti penduduk di Propinsi Guangdong (RRC) dan Pantai Kerala (India).

Para korban bom atom di Hiroshima dan Nagasaki yang selamat hingga kini masih terus dipantau dan menjadi obyek penelitian oleh para ahli. Dari data yang dikumpulkan selama 24 tahun sejak tahun 1958 hingga 1982 menunjukkan bahwa sejumlah korban yang diperkirakan menerima radiasi dengan dosis antara 0,12 – 0,36 Sievert justru tercatat tingkat kematiannya akibat leukemia paling minim dibandingkan penduduk lain yang tidak menerima paparan radiasi pada saat terjadi ledakan bom atom.

Dari Cina juga dilaporkan status kesehatan lebih dari 20.000 penduduk di kota Yangjang, propinsi Guangdong. Dari hasil pengukuran diketahui bahwa radiasi latar di daerah itu ternyata tiga kali lebih tinggi dibandingkan radiasi latar daerah-daerah lainnya. Data mengenai status kesehatan penduduk yang menempati daerah tersebut turun temurun dikumpulkan dari tahun 1972 – 1975 dan dibandingkan dengan status kesehatan penduduk daerah lain yang radiasi latar alamiahnya normal. Data yang diperoleh menunjukkan bahwa frekwensi ditemukannya kanker ternyata lebih rendah pada penduduk di daerah radiasi latar tinggi dibandingkan dengan penduduk di daerah dengan radiasi latar rendah. Demikian halnya dengan data yang terkumpul dari Pantai Kerala di India. Lebih dari 130.000 penduduk tinggal di daerah ini dengan radiasi latar alamiah 3 hingga 10 kali di atas normal. Namun harapan hidup penduduk di Kerala ternyata 10 – 15 tahun lebih panjang dari pada harapan hidup rata-rata penduduk India. Dari beberapa data epidemiologi yang berhasil dikumpulkan inilah beberapa pakar radiobiologi menduga adanya hormesis radiasi pada manusia.

Dengan ditemukannya fenomena hormesis ini maka saat ini ada dua anggapan yang saling bertolak belakang tentang efek radiasi dosis rendah. Anggapan pertama mengatakan bahwa sekecil apapun dosis radiasi yang diterima tubuh dapat mengakibatkan terjadinya kerusakan sel sehingga memberikan peluang timbulnya kanker maupun kerusakan genetik. Anggapan pertama ini tetap dipegang teguh oleh Komisi Internasional untuk Perlindungan Radiologi (ICRP). Bahkan data-data tentang adanya hormesis radiasi yang ditemukan oleh ICRP sendiri hanya dianggapan sebagai penyimpangan dan tidak pernah dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan.

Anggapan kedua mengatakan bahwa radiasi dosis rendah justru dapat memberikan efek yang menguntungkan bagi kehidupan. Anggapan ini didasarkan pada dugaan bahwa makhluk hidup mempunyai kemampuan untuk beradaptasi pada suatu lingkungan yang dosis radiasinya lebih tinggi dari radiasi latar alamiah. Paparan radiasi tersebut mampu merangsang fungsi-fungsi sel dalam mengurangi kerusakan akibat paparan radiasi berikutnya, jadi ada semacam proses imunisasi yang terjadi pada sel, dlam hal ini kerusakan sel akibat paparan radiasi akan diimbangi bukan hanya dalam bentuk perbaikan kembali sel yang rusak melainkan juga ketahanan sel terhadap kerusakan akibat paparan radiasi berikutnya.

Jika dugaan adanya efek hormesis dari paparan radiasi dosis rendah terhadap tubuh manusia benar adanya, maka penerimaan radiasi dosis rendah oleh tubuh manusia tidak perlu dicemaskan, misal dosis yang diterima karena seseorang bekerja dengan radiasi atau berada di medan radiasi. Hasil akhir dari paparan radiasi dosis rendah ini justru menguntungkan. Artinya, radiasi pengion ternyata tidak selalu menimbulkan efek biologi negatif bagi organisme. Namun untuk meyakinkan kebenaran fenomena hormesis itu masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dan menyeluruh sehingga diperoleh data-data pendukung baru yang dapat memperkuat dugaan itu.

Sumber

Berbagai sumber :
  1. www.batan.go.id Credit By Mukhlis Akhadi

Selasa, 24 Mei 2011

RENOGRAF DUAL PROBES SEBAGAI PENDETEKSI FUNGSI GINJAL

Perkembangan Renograf

Teknik Renografi untuk memeriksa fungsi ginjal telah dikenal sejak tahun 1950-an. Teknik ini pada awalnya menggunakan dua buah detektor (probes) dengan keluaran berupa kurva urodinamik/renogram pada kertas chart recorder. Teknik dual probes sempat terdesak dengan berkembangnya teknologi kamera gamma yang dpat menyajikan citra (image) dan sekaligus data pendukung diagnotik yang lebih baik. Dengan perkembangan elektronika dan penguasaan teknologi komputer saat ini, Badan Tenaga Nuklir Nasional telah berhasil mengembangkan perangkat renograf berbasis komputer personal (PC). Sistem ini telah tervalidasi pada Workshop on Refurbishing of Aged Renograph and Thyroid Up Take System di Yangon, Myanmar, Januari 2001, yang disponsori oleh International Atomic Energy Agency. Meskipun tidak menjanjikan pencitraan (imaging), namun teknik berbasis komputer ini selain mampu memberikan kurva renogram yang dapat disimpan dalam bentuk data digital, juga memberikan parameter hasil olahan perangkat lunak sebagai data pendukung diagnostik yang akurat.

Waktu yang diperlukan untuk persiapan dan pemeriksaan pasien relatif singkat. Dosis isotop yang lebih aman (seperempat dari yang diperlukan pada penggunaan kamera gamma), kelengkapan perangkat lunak (software) yang mudah digunakan (user friendly) dan kesederhanaan alat yang tidak memerlukan personil terdidik khusus (high skill personnel) untuk pengoperasian dan perawatan alat, serta biaya investasi yang kurang dari sepersepuluh kamera gamma, sehingga biaya operasional per pasien sangat ekonomis. Renograf Dual Probes sesuai untuk rumah sakit kecil yang belum memiliki kamera gamma, ataupun rumah sakit sibuk yang berusaha mengurangi beban penggunaan kamera gamma yang telah ada untuk pemeriksaan ginjal.

Tabel 1 : Dosis Orangn Dewasa untuk Renografi

Overview Mengenai Renografi

Pada dasarnya metoda renografi adalah memonitor kedatangan, sekresi, ekskresi (arrival, uptake, transit and elimination) dari radiofarmaka pada ginjal sesaat setelah injeksi intravena. Pemonitoran dari luar tubuh ini dimungkinkan karena radiofarmaka yang digunakan mengandung isotop yang memancarkan radiasi gamma. Hasil pengukuran adalah berupa kurva renogram.

Fisiologis renogram (normal) terdiri atas 3 segmen (fase) :
Fase I :
Memberikan informasi tentang kapasitas respon renovaskuler. Kurva memiliki up-slope yang tajam dan berlangsung cepat (sekitar 30 detik).
Fase II :
Memberikan informasi tentang kapasitas uptake, konsentrasi dan sekresi jaringan parenchym ginjal (nephron). Kurva memiliki up-slope yang lebih landai dan berlangsung kurang dari 5 menit.
Fase III :
Memberikan informasi tentang kapasitas ekskresi atau eliminasi kedua ginjal. Kurva menurun (downslope) dimulai dari puncak fase II sampai akhir pemeriksaan.

Ketiga fase merupakan refleksi keadaan urodinamik kedua ginjal. Gangguan pada masing-masing fase memiliki makna klinis yang berbeda. Walaupun secara komprehensip dapat saling mempengaruhi.

Tipikal Pola-pola Renogram

pola pola renogram untuk kondisi ginjal tertentu
Indikasi Pemeriksaan

Indikasi pemeriksaan (renografi) dapat dilakukan atas permintaan dokter untuk pasien dengan berbagai latar belakang klinis gangguan fungsi ginjal. Renografi dalam sistem pelayanan kesehatan dapat berperan sebagai sarana screening diagnostic maupun sebagai sarana pemantauan hasil pengobatan/tindakan medis.

Metode Pemeriksaan

Persiapan
Persiapan peralatan, yakinkan peralatan telah disiapkan sesuai radiofarmaka yang akan digunakan (setting LLD-ULD) dan telah dilakukan uji kesetabilan (chi-square test). Berikan kepada pasien air minum (hydrate) sebanyak 250 s/d 500 ml sebelum prosedur pemeriksaan. Pasien diminta buang air kecil sebelum pengaturan posisi pemeriksaan. Isikan data pasien pada form file baru (pada komputer).

Prosedur :
Atur posisi pasien (duduk atau tiduran), arahkan masing-masing probe ke ginjal kiri dan kanan, pasien diminta untuk tidak menggerakkan punggung selama pemeriksaan. Ketepatan posisi dan pengaturan arah probe sangat menentukan keberhasilan pengukuran. Kunci posisi kursi/tempat tidur pasien dan detektor probes agar tidak berubah selama pengukuran. Injeksikan radiofarmaka secara intravena pada lengan kanan atau lengan kiri pasien (gunakan bolus teknik), serentak dengan injeksi mulailah pengukuran. Pengukuran berlangsung selama 18 s/d 20 menit dan dapat diperpanjang sampai 40 menit apabila diperlukan.

Diskripsi Peralatan

A. Perangkat Keras : 
Bagian utama dari perangkat keras peralatan renograf adalah :
  1. Detektor Probes
    Detektor yang digunakan sebagai probes adalah jenis Scintilasi (Nal(TI)). Detektor dilengkapi dengan kolimator dari bahan timbal untuk mengarahkan ke masing-masing ginjal dan menghindari cross talk antar ginjal, serta menekan gangguan latar (back ground). Probes ini dapat terpasang secara khusus pada kursi pasien, maupun pada statif tegak. Dengan statif tegak nenubgkinkan penggunaan sistem ini untuk keperluan lain, misalnya dengan perangkat lunak khusus sebagai pengukur Thyroid Uptake, atau untuk keperluan prosedur lain yang dikembangkan lebih lanjut.
  2. Catu daya detektor dan unit pemroses sinyal.
    Catu daya detektor memberikan tegangan tinggi (sekitar 1000 VDC) yangdiperlukan untuk operasi detektor. Pemroses sinyal memperkuat sinyal dari detektor, membentuk sinyal menjadi pulsa gaussian, memisahkan pulsa sesuai pilihan energi isotop dengan teknik Single Channel Analyzer (SCA), serta mencacah pulsa per 4 detik. Saat ini unit detektor terdiri dari Modul Tegangan Tinggi dan Add-On Card untuk ISA bus. Untuk mengikuti trend perkembangan komputer sedang dikembangkan modul akuisis data dengan memanfaatkan teknologi Universal Serial Bus (USB)

Perangkat keras renograf dual probes

B. Perangkat Lunak (software)
Tersedia beberapa versi software yang digunakan dengan sistem operasi DOS, Window 98, dan Window XP. Versi DOS memungkinkan pemanfaatan komputer lama jenis 486, sedangkan versi Windows yang memerlukan PC Pentium (dengan memori minimum 16 MB untuk Window 98 dan 32 MB untuk Window XP) lebih menawarkan kemudahan bagi operator (user friendly). Operasi perangkat lunak renograf mengharuskan operator setiap hari melakukan uji kualitas alat (spectum check, ULD-LLD setting, Chi-Square Test) sebelum digunakan untuk pemeriksaan pasien. Secara umum aplikasi renograf terdiri dari : akuisisi data pasien baru, menyimpan data pasien, membuka kembali/memeriksa/menganalisa file data pasien, dan mencetak data hasil pemeriksaan. Parameter yang ditampilkan meliputi cacah (count) maksimum masing-masing ginjal beserta waktu pencapaiannya, waktu pencapaian 2/3 dan T1/2, reno indeks, up-take relatif, serta cacah pada menit ke sepuluh.

Tampilan perangkat lunak Reno XP


Sumber

Berbagai sumber :
  1. www.batan.go.id
  2. www.infonuklir.com
  3. http://warintek.ristek.go.id/

PERANGKAT DIAGNOSTIK UJI TANGKAP KELENJAR GONDOK

Thyroid Up-Take Counter adalah suatu perangkat atau alat untuk mempelajari kecepatan kelenjar gondok (thyroid gland) dalam mengakumulasi dan melepaskan iodium yang menjadi komponen utama dalam pembentukan hormon tiroksin yang berguna bagi metabolisme tubuh melalui suatu prosedur kedokteran nuklir.

Perangkat Diagnostik Uji Tangkap Kalenjar Gondok ( Thyroid Up-Take Counter )

Dalam prosedur ini digunakan isotop iodium-131 sebagai perunut yang biasanya dalam bentuk kapsul setelah melalui kendali kualita yang ketat. Kapsul aktif ini diukur aktivitasnya dengan alat tersebut (sebagai referensi standar), dan kemudian diberikan kepada pasien secara oral. Secara in-vivo pada interval waktu tertentu isotop iodium yang terakumulasi pada kelenjar gondok diukur aktivitas bersihnya (yaitu aktivitas setelah dikurangi aktivitas latarnya/background), selanjutnya data ini tercatat secara otomatis dalam komputer.

Hasil pengukuran aktivitas setelah pemberian kapsul iodium dibandingkan dengan referensi, merupakan kurva persentasi radioaktivitas iodium yang terukur dalam kelenjar dan polanya seperti terlihat pada gambar kurva fungsi thyroid.

Kurva fungsi Thyroid
Kurva yang terbentuk menunjukkan uji dinamik fungsi tangkap kelenjar gondok/thyroid terhadap iodium dalam proses pembentukan dan pelepasan hormon, serta interaksinya dengan kelenjar pituitary.

Kurva-kurva tersebut memperlihatkan persentasi fungsi thyroid (tangkap kelenjar gondok terhadap iodium), antara lainkurva nomor :
1. Menunjukkan Thyroid
2. Menunjukkan hypothyroid
3. Menunjukkan hyperthyroid
4. Menunjukkan hyperthyroid severe
5. Menunjukkan organification defect

Nilai normal tangkapan thyroid bervariasi dari 8 sampai 80%. Nilai normal setelah pemberian dosis 2-4 jam adalah 10-30%, sedangkan untuk 24 jam adalah 25-55%, dan untuk 48 jam adalah 30-60%. Persentasi tangkapan pada 2-4 jam pertama adalah sangat berguna untuk mendiagnosis hyperthyroid, sedangkan pada 24 jam dan diatasnya sangat berguna untuk hyperthyroid, karena pada saat itu aktifitas background pada jaringan non-thyroid telah menurun.

kartu elektronik akuisisi data


Sumber

Berbagai sumber :
  1. www.batan.go.id
  2. www.infonuklir.com
  3. http://warintek.ristek.go.id/

Mammografi Sebagai Pendeteksi Kanker Payudara

Setelah kita membahas pesawat sinar-X dan MRI, kini akan kita bahas lagi mengenai suatu alat yang tidak kalah pentingnya pada dunia medis. Alat itu adalah Mammograf / Mammogram. Sementara prosesnya adalah Mammografi. Untuk lebih jelasnya langsung aja kita bahas.


Apa itu Mammografi ?

Mammografi merupakan suatu tes yang aman untuk melihat adanya masalah pada payudara perempuan. Tes ini menggunakan mesin khusus dengan sinar X dosis rendah untuk mengambil gambar kedua payudara. Hasilnya direkam dalam suatu film sinar X atau langsung menuju komputer untuk dilihat oleh seorang ahli radiologi. Mammogram memungkinkan dokter untuk melihat dengan lebih jelas benjolan pada payudara dan perubahan di jaringan payudara. Mammogram dapat menunjukkan benjolan kecil atau pertumbuhan yang tak teraba baik oleh dokter atau perempuan itu sendiri ketika melakukan pemeriksaan payudara. Mammografi adalah alat skrining terbaik yang dimiliki dokter untuk menemukan kanker payudara. Jika suatu benjolan ditemukan, maka dokter Anda akan melakukan tes-tes lainnya seperti USG atau biopsi, yaitu suatu tes untuk mengambil sejumlah kecil jaringan dari benjolan dan daerah sekitar benjolan. Jaringan tersebut dikirim ke laboratorium untuk dicari adanya kanker atau perubahan-perubahan yang dapat menunjukkan bahwa terdapat adanya kanker. Benjolan atau pertumbuhan di payudara dapat bersifat jinak (bukan kanker) atau ganas (kanker). Jika kanker payudara ditemukan secara dini berarti perempuan tersebut memiliki kemungkinan bertahan (survival) dari penyakit ini lebih baik. Selain itu lebih banyak pilihan terapi yang tersedia bila kanker payudara ditemukan dini.

Mammografi adalah proses pemeriksaan payudara manusia menggunakan sinar-X dosis rendah (umumnya berkisar 0,7 mSv). Mammografi digunakan untuk melihat beberapa tipe tumor dan kista, dan telah terbukti dapat mengurangi mortalitas akibat kanker payudara. Selain mammografi, pemeriksaan payudara sendiri dan pemeriksaan oleh dokter secara teratur merupakan cara yang efektif untuk menjaga kesehatan payudara. Beberapa negara telah menyarankan mammografi rutin (1-5 tahun sekali) bagi perempuan yang telah melewati paruh baya sebagai metode screening untuk mendiagnosa kanker payudara sedini mungkin.
sumber : wikipedia

Sebagaimana penggunaan sinar-X lainnya, mammogram menggunakan radiasi ion untuk menghasilkan gambar. Radiolog kemudian menganalisa gambar untuk menemukan adanya pertumbuhan yang abnormal. Walaupun teknologi mammografi telah banyak mengalami kemajuan dan inovasi, ada komunitas medis yang meragukan penggunaan mammografi karena tingkat kesalahan yang masih tinggi dan karena radiasi yang digunakan dapat menimbulkan bahaya.

Diketahui bahwa sekitar 10% kasus kanker tidak terdeteksi dengan mammografi (missed cancer). Hal itu disebabkan antara lain oleh jaringan normal yang lebih tebal disekitar kanker, atau menutupi jaringan kanker sehingga jaringan kanker tidak terlihat.

Pada saat ini, mammografi masih menjadi standar terbaik untuk screening dini kanker payudara. Ultrasound, Ductography, dan Magnetic Resonance merupakan beberapa teknik lain yang juga digunakan untuk memperkuat hasil mammografi. Ductogram digunakan untuk mengevaluasi darah yang keluar dari puting. Magnetic resonance imaging (MRI) digunakan untuk evaluasi lanjutan atau sebelum operasi untuk melihat adanya daerah abnormal lainnya.

Mammograf



Apakah terdapat jenis mammogram yang berbeda-beda?

  1. Skrining mammografi dilakukan untuk perempuan yang tidak mempunyai gejala-gejala kanker payudara. Ketika usia Anda mencapai 40, Anda sebaiknya menjalani mammografi setiap satu atau dua tahun.
  2. Mammogram diagnostik dilakukan ketika seorang perempuan memiliki gejala-gejala kanker payudara atau terdapat benjolan di payudara. Mammogram ini memakan waktu lebih lama karena gambar payudara yang diambil lebih banyak.
  3. Mammogram digital mengambil gambaran elektronik payudara dan menyimpannya langsung di komputer. Penelitian terbaru tidak menunjukkan bahwa gambaran digital lebih baik dalam menemukan kanker daripada film sinar X.


Bagaimana mammografi dilakukan?

Pasien berdiri di depan mesin sinar X khusus. Orang yang mengambil foto rontgen, disebut teknisi radiologi, meletakkan payudara Anda (satu per satu) di antara dua bidang plastik. Bidang ini kemudian menekan payudara untuk meratakannya. Anda akan merasakan tekanan pada payudara selama beberapa detik. Ini akan membuat merasa tidak nyaman. Anda mungkin merasa diperas atau dijepit. Tetapi, semakin rata payudara Anda, makin baik gambarnya. Paling sering dua gambar diambil dari masing-masing payudara, satu dari samping dan satu dari atas. Mammogram skrining memakan waktu sekitar 15 menit dari awal sampai akhir.

Proses mammografi


Mengapa Mammografi diperlukan ?


Melalui pemeriksaan Mammografi, angka kematian karena kanker payudara dapat diturunkan sampai dengan 30%. Dalam metode Mammografi, Sinar X yang dipancarkan sangat kecil, sehingga metode ini relatif aman, dan pelaksanaannya relatif mudah.

Tanda tanda kanker payudara dan gejalanya :

1. Terdapat perubahan kulit payudara, menjadi berkerut seperti kulit jeruk.
2. Adanya benjolan pada payudara, baik yang disertai rasa nyeri maupun tidak.
3. Adanya cairan atau darah yang keluar dari puting payudara.
4. Adanya rasa tidak enak disekitar payudara.

Sebaiknya, wanita yang memiliki resiko tinggi menderita kanker payudara, dapat melakukan pemeriksaan Mammografi.

Adapun, wanita yang beresiko tinggi terhadap kanker payudara, yaitu :
1. Wanita yang tidak menikah.
2. Wanita yang berumur 35 tahun keatas.
3. Wanita yang tidak mempunyai anak.
4. Wanita yang memiliki riwayat keluarga yang menderita kanker payudara.
5. Wanita yang melahirkan anak pertama pada usia diatas 30 tahun.
6. Wanita pada masa menopause.

Kiri : Normal, Kanan: Ada Kanker
 


Masalah apa yang bisa terjadi dengan mammogram?

Seperti halnya tes medis lainnya, mammogram memiliki keterbatasan, meliputi:
  1. Mammografi merupakan bagian dari pemeriksaan payudara lengkap. Dokter Anda harus melakukan pemeriksaan payudara. Jika mammogram menunjukkan sesuatu yang abnormal, dokter Anda akan melakukan pemeriksaan lainnya.
  2. “Negatif palsu” dapat terjadi. Artinya, semuanya terlihat normal tetapi sebenarnya terdapat kanker. Negatif palsu jarang terjadi. Perempuan yang lebih muda lebih cenderung mendapatkan hasil mammogram negatif palsu daripada perempuan yang lebih tua. Hal ini disebabkan jaringan payudara lebih padat sehingga kanker lebih sulit terlihat.
  3. “Positif palsu” dapat terjadi. Hal ini terjadi ketika hasil mammogram menunjukkan adanya kanker, walaupun sebenarnya tidak ada. Positif palsu lebih sering terjadi pada perempuan yang lebih muda daripada perempuan yang lebih tua.

 
Kalo pengen tau lebih jauh tentang cara kerja mammogram, saksikan video berikut :



Sumber

Berbagai sumber :
  1. http://id.wikipedia.org/wiki/Mammografi
  2. http://en.wikipedia.org/wiki/Mammography
  3. http://1tahitiannoni.com/deteksi-dini-dengan-mammografi-2/
  4. http://www.rumahsakitmitrakemayoran.com/mendeteksi-kanker-payudara-dengan-melakukan-pemeriksaan-mammografi/
  5. http://id.shvoong.com/business-management/health-care-management/2035819-mammografi-deteksi-dini-kanker-payudara/
  6. http://www.sehatgroup.web.id/?p=404
  7. http://www.medicalera.com/info_answer.php?thread=4244
  8. http://pondokibu.com/kesehatan/sekilas-tentang-mamografi/
  9. http://youtu.be/2t_lW_PICl4

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger